Saturday, July 27, 2019

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani



Syekh Abdul Qodir al Jaelani (bernama lengkap Muhyi al Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al Jaelani). Lahir di Jailan atau Kailan tahun 470 H/1077 M sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata al Jailani atau al Kailani atau juga al Jiliydan. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, atau nama beliau yang sebenar ialah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir - merupakan keturunan Rasulullah saw, melalui puteri baginda Siti Fatimah Az-Zahra.

Biografi beliau dimuat dalam Kitab الذيل على طبق الحنابلة Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul Akhir di daerah Babul Azaj di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Inilah silsilah beliau Al Arifbillah Assayyid Abdul Qadir al Jailani r.a

Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Sayyid Hasan
Sayyid Hasan al Mutsanna
Sayyid Abdullah al Mahdi
Sayyid Musa al Jun
Sayyid Dawud
Sayyid Muhammad
Sayyid Yahya Azzahid
Sayyid Abdullah
Sayyid Musa
Syekh Abdul Qadir al Jailani r.a

Ada dua riwayat sehubungan dengan tanggal kelahiran al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani.

Riwayat pertama yaitu bahwa ia lahir pada 1 Ramadhan 470 H.
Riwayat kedua menyatakan Ia lahir pada 2 Ramadhan 470 H.

Tampaknya riwayat kedua lebih dipercaya oleh ulama. Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha r.a ,melalui ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami rah.a memberikan komentar mengenai asal usul al-Ghauts al-A'zham r.a sebagi berikut :

"Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu".


Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut :

Dari Ayahnya(Hasani) :

Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdul Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW

Dari ibunya(Husaini) :

Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah Sum'i bin Abu Jamal bin Muhammad bin Mahmud bin Abul 'Atha Abdullah bin Kamaluddin Isa bin Abu Ala'uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.

Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali.

Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti

1. Ibnu Aqil,
2. Abul Khatthat,
3. Abul Husein al Farra’
4. Abu Sa’ad al Muharrimi.

Belaiu menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa’ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Ia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat kepada orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat beliau. Banyak pula orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang menimba ilmu di sekolah beliau hingga sekolah itu tidak mampu menampung lagi.

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti

1. Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam,
2. Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqh terkenal al Mughni.

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin Nubala XX/442).

Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, ”Kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu.”

Beliau adalah seorang yang berilmu, beraqidah Ahlu Sunnah, dan mengikuti jalan Salaf al Shalih. Beliau dikenal pula banyak memiliki karamah. Tetapi, banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, tariqah (tarekat/jalan) yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Di antaranya dapat diketahui dari pendapat Imam Ibnu Rajab.

Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan ahli zuhud. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi, ada seorang yang bernama al Muqri’ Abul Hasan asy Syathnufi al Mishri (nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya).

"Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal.

Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."

Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.

Al Kamal menyebutkan bahwa asy Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah as Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa'dah 1415 H / 8 April 1995 M.).

Imam Ibnu Rajab juga berkata, ”Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah."

Karya karyanya :

1. Tafsir Al Jilani
2. Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
3. Futuhul Ghaib.
4. Al-Fath ar-Rabbani
5. Jala' al-Khawathir
6. Sirr al-Asrar
7. Asror Al Asror
8. Malfuzhat
9. Khamsata "Asyara Maktuban
10. Ar Rasael
11. Ad Diwaan
12. Sholawat wal Aurod
13. Yawaqitul Hikam
14. Jalaa al khotir
15. Amrul muhkam
16. Usul as Sabaa
17. Mukhtasar ulumuddin

Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Ia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.

Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, ”Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ).

Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi“.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidahnya ( Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani ) di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Ia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Ia juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.)

Al-Jaba’i berkata bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor hingga memenuhi tempat tersebut.

Kemudian, aku dibawa ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat di sekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum]]. Kemudian, Syeikh Abdul Qadir melanjutkan, “Aku melihat Rasulallah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, "anakku, mengapa engkau tidak berbicara?". Aku menjawab, "Ayahku, bagaimana aku yang non arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?". Ia berkata, "buka mulutmu". Lalu, beliau meludah 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, ”bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”.

Setelah itu, aku salat dzuhur dan duduk serta mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, "buka mulutmu". Ia lalu meludah 6 kali ke dalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meludah 7 kali seperti yang dilakukan Rasulallah SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rasulallah SAW.

Kemudian, aku berkata, "Pikiran, sang penyelam yang mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat”. Ia kemudian menyitir, "Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria dapat membunuh dirinya dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis."

Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu" jawab suara itu.

Aku pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di antaranya adalah tidak ada seorang pun yang menentangku dan tidak ada seorang muridku yang meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.

Suatu ketika, saat aku berceramah aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku. "Apa ini dan ada apa?" tanyaku. "Rasulallah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat" jawab sebuah suara. Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu, aku melihat Rasulallah SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, "Wahai Abdul Qadir". Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasulullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Ia meludah ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meludah ke dalam mulutku 3 kali. "Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulallah SAW?" tanyaku kepadanya. "Sebagai rasa hormatku kepada Rasalullah SAW" jawab beliau.

Rasulallah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepadaku. "apa ini?" tanyaku. "Ini" jawab Rasulallah, "adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian".

Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah. Saat Nabi Khidir As. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, ”Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, "Engkau tidak akan sabar kepadaku", aku akan berkata kepadamu, "Engkau tidak akan sabar kepadaku". "Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”

Al-Khattab pelayan Syeikh Abdul Qadir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah tiba-tiba beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israel, dengarkan apa yang dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut beliau menjawab, ”Tadi Abu Abbas Al-Khidir As lewat dan aku pun berbicara kepadanya seperti yang kalian dengar tadi dan ia berhenti”.

Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.

1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu penyayang dan lembut.
3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
6. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan kepadanya dikatakan:
Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yang mengajak kepada kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat dzahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah kepada tamu, lemah lembut kepada si miskin, mengawasi para muridnya sedang ia selalu merasa diawasi oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir juga menyatakan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah kepada kita untuk menilai seorang syeikh. Apabila ia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas untuk diikuti.

Ali ra. bertanya kepada Rasulallah SAW, "Wahai Rasulullah, jalan manakah yang terdekat untuk sampai kepada Allah, paling mudah bagi hambanya dan paling afdhal di sisi-Nya. Rasulallah berkata, "Ali, hendaknya jangan putus berzikir (mengingat) kepada Allah dalam khalwat (kontemplasinya)". Kemudian, Ali ra. kembali berkata, "Hanya demikiankah fadhilah zikir, sedangkan semua orang berzikir".

Rasulullah berkata, "Tidak hanya itu wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi di muka bumi ini selama masih ada orang yang mengucapkan 'Allah', 'Allah'. "Bagaimana aku berzikir?" tanya Ali. Rasulallah bersabda, "Dengarkan apa yang aku ucapkan. Aku akan mengucapkannya sebanyak tiga kali dan aku akan mendengarkan engkau mengulanginya sebanyak tiga kali pula".

Lalu, Rasulallah berkata, “Laa Ilaaha Illallah” sebanyak tiga kali dengan mata terpejam dan suara keras. Ucapan tersebut di ulang oleh Ali dengan cara yang sama seperti yang Rasulullah lakukan. Inilah asal talqin kalimat Laa Ilaaha Illallah. Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita dengan kalimat tersebut.

Syeikh Abdul Qadir berkata, ”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut”.

Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan diucapkan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan aku saat perpisahan (maut).

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam.

Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Syeikh Abdul Qadir juga dikenal sebagai pendiri sekaligus penyebar salah satu tarekat terbesar didunia bernama Tarekat Qodiriyah.

Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azajwafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

SULTAN AGONG KESULTANAN DEMAK II


RADEN SUMITO JOYOKUSUMO
SRI SULTAN SURYA ALAM JOYOKOSUMO
SULTAN AGONG KESULTANAN DEMAK II 


MASA KANAK-KANAK, R.Sumito Joyokusumo lahir di demak, 6 maret 1972 putra dari seorang R. Sugiman Giri Atmojo dan ibu Asmirah Bodin Soekerto. Pada saat masih kanak-kanak memiliki nama kecil Raden Sumito. Ayahnya memberikan nama depan dengan nama raden karena memang memiliki garis keturunan keluarga bangsawan dari Sultan Demak Bintoro.

Selain itu diartikan sebagai keturunan ( darah ) yang baik. Sedangkan kata sumito diartikan memiliki cita-cita yang tinggi demi kejayaan dan kemakmuran mahluk allah. Kemudian nama kusumo bunga sesama mahluk hidup dan Jaya berarti sukses dalam segala hal. Khususnya dalam hal kebaikan.

Dengan demikian, ayahnya memiliki cita-cita agar nantinya setelah dewasa Raden Sumito menjadi orang yang berguna bagi masyarakat banyak dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, maka ayah R. Sumito mendidik dengan ajaran-ajaran leluhur dan ilmu pengobatan. Ilmu tersebut diterimanya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu diusianya yang masih kanak-kanak telah mampu menguasai ilmu leluhur dan ilmu pengobatan yang dimiliki ayahnya, cukup banyak orang yang heran dan kagum dengan kemampuan yang dimiliki olehnya.

Di usia kanak-kanak ayahnya menyekolahkan di SD sekitar rumahnya Desa Kenep Mangunjiwan Demak. Seperti anak-anak pada umumnya suka bermain-main dan menggembala ternak. Cukup banyak ternak yang digembala sepulang dari sekolah dan hari libur.

Disini R. Sumito mampu membaca bahasa hewan peliharaanya, pergaulannya dengan binatang-binatang ternak peliharaanya itu membuat R. Sumito mampu bergaul dengan burung-burung yang ada di tanah persawahan dan kebun. Banyak burung yang datang dengan sendirinya mendekat. Berbagai jenis burung datang ketika sedang menggembala kambing dan ternak lainnya yang jumlahnya mencapai puluhan ekor. Sepertinya dia mampu berbicara dengan burung-burung di sekitar demak. Bahkan dengan ular pun bersahabat. Oleh sebab itu, dirinya kebal terhadap bias ular dan anti racun ular jenis apapun.

Kelebihan yang di miliki R. Sumito Joyokusumo ini membuat banyak masyarakat yang merasa kagum dan meminta pengobatan agar penyakitnya dapat disembuhkan. Permintaan masyarakat itu selalu ia kabulkan. sehingga banyak yang tersembuhkan dari penyakit, baik melalui pijat refleksi maupun dengan menggunakan ramuan obat herbal. Kesediaannya menyembuhkan penyakit dari orang-orang yang datang ke rumahnya sebenarnya ada yang menyuruh. Tapi orangbya tidak kelihatan . batin dan fikirannya seperti ada yang menggerakan. Sehingga orang-orang yang datang meminta pertolongan lagsung saja di setujui tanpa di tolak, baik pada siang maupun malam hari.

Di tengah-tengah kesibukannya untuk mengobati masyarakat, jika ada waktu yang luang di gunakan untuk bermain-main bersama teman-temannya. Seperti main layang-layang, berlari dan berenang di sungai tuntang. Maklum pada waktu itu anak-anak seusia dia banyak yang suka bermain daripada belajar seperti anak-anak sekarang. Tidak lupa kalau sudah mendekati maghrib, belajar mengaji di sebuah langgar pada seorang kiai kampong yang mengajarkan agama islam. Bahkan kadang-kadang tidur di langgar juga. Ilmu agama yang di miliki cukup bagus. Ilmu yang diajarkan kiainya dapat di amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya masalah ahlaqul karimah.


MASA SMP
Setelah lulus dari sekolah dasar (SD) kenep mangunjiwan demak melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi. Yaitu ke sekolah menengah pertama (SMPN 3) kenep mangunjiwan demak. Meskipuntelah duduk dibangku SMP, R. sumito masih menggembala ternak dan kambing orang tuanya. Tapi bila waktu libur sekolah menyempatkan diri untuk belajar ilmu pencak silat dan olah kanuragan.

Selama belajar ilmu bela diri pencak silat, R. sumito mengenal ilmu pernafasan dan tenaga dalam. ilmu tersebut dipelajari dengan sungguh-sungguh hingga menguasai dengan sempurna. Penguasaan atas ilmu pencak silat ini tidak membuat R. sumito suka berkelahi dengan siapapun yang menentangnya, melainkan ilmu itu disimpan dengan baik dan seakan-akan tidak memiliki. Sementara banyak anak-anak muda yang memamerkan ilmu silat dengan menantang duel dengan orang lain guna menjajal ilmu yang dimiliki selama ini.

Sikap arif dan bijaksana yang dimiliki R. sumito membuat teman-temannya senang dan dijadikan pemimpin dikalangan anak-anak muda. Pandangan matanya yang menyejukkan dan perilakunya yang tidak sombong membuat para preman takut dan segan untuk berbuat jahat didesanya. Lebih memilih menjauh, sehingga desanya aman dari ganguan para preman.

Saat duduk dibangku SMP ini R. sumito joyokusumo mulai mengenal hidup lelaku atau semedi. Yaitu tinggal ditempat-tempat sunyi untuk mendapatkan wangsit atau membersihkan hati agar mendapat sebuah ketenangan jiwa. Ia mulai menyukai tinggal di makam-makam yang cukup banyak disekitar desanya. Khususnya makam para raja, bangsawan kerajaan demak yang tidak diurus oleh ahli warisnya. Seperti makam astaba gedhong kenep demak dan makam lingkungan masjid demak bintoro serta makam sunan-sunan.

Di makam tersebut, merasakan adanya sebuah kedamaian jiwa. Kadang hanya duduk-duduk sendiri maupun bersama-sama temannya. Hingga ketiduran sampai sore karena merasa nyaman dengan angin yang menyejukkan. Dimakam ini pula ia mengenal sejarah panjang raja-raja demak dan para bangsawan yang meninggal dunia.

Selain itu beliau sering tinggal di masjid demak yang waktu itu banyak orang yang melakukan iktikaf dan berziarah. Karena masjid tersebut telah dianggap memiliki aura yang ccukup tinggi. Mengingat yang membuat masjid-masjid tersebut adalah walisongo yang hidupnya tanpa pamrih untuk menyebarkan agama islam.

Kepergiannya ke makam dan masjid itu sebenarnya sebatas bermain-main. Masih belum ada pikiran yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan anjuran gurunya agar lebih dekat dengan makam sebagai pengingat, bahwa mumpung masih muda hendaknya waktunya digunakan untuk kebaikan sebelum meninggal dunia.

Sedangkan sering datang ke masjid demak sesuai dengan perintah gurunya agar nantinya lebih dekat kepada allah. Mumpung masih muda hendaknya beribadah sebelum tiba waktu tua. Juga untuk meningkatkan keimanan terhadap allah SWT. Hal ini mendapat dukungan dari orangtuanya yang memang ketika masih muda pernah melakukan.

Sementara itu pada hari libur sekolah digunakan waktunya untuk bertamasya di laut yang bersuasana sunyi. Selain memancing, juga naik perahu dan duduk-duduk dipohon yang rindang, kemudian berlari-lari bersama teman-teman lainnya. Perasaan senang menyelimutinya. Dalam pikirannya muncul perenungan betapa sangat besar keagungan Allah SWT.

Di hari libur sekolah lainnya digunakan untuk pergi kegunung menikmati keindahan alam yang sejuk bersama teman-temannya maupun sendirian. Hal ini digunakan untuk mengenal dari dekat tentang keindahan alam pegunungan. Mengingat kota demak sangat dekat dengan daerah pantai. Bagi R. sumito pergi ke gunung merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi pikirannya maupun tubuhnya. Ia merasakan hawa yang sejuk dan udara yang bersih dan sangat sehat bagi paru-parunya. Oleh karena itu, ia merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT.

MASA SMA
Setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) R. sumito lalu melanjutkan sekolah ke SMA demak guna menambah ilmunya. Ia merupakan sebagian kecil anak yang bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Guna mencapai cita-citanya. Bahkan ketika duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) R. sumito termasuk remaja yang cukup kreatif dan berfikir supra rasional. Oleh karena itu, pada saat liburan waktunya selalu digunakan untuk pergi kegunung , masjid bersejarah dan makam-makam para raja dan bangsawan kerajaan demak bintoro. Ia sepertinya ada yang menyuruh untuk mendatangi gunung, masjid dan makam-makam raja. Perginya R. sumito ke gunung, masjid bersejarah dan makam-makam para raja dan keluarganya bukan hanya sekedar untuk bermain seperti waktu kecil, melainkan memiliki tujuan yang cukup jelas. Yaitu melihat dan merasakan keagungan Illahi Robi Pencipta Semesta Alam.

Dari sinilah ia selalu berfikir, mengapa gunung itu diciptakan Allah. Kemudian mengapa masjid demak itu berdiri dan ketika berada di makam-makam para raja dan keluarganya muncul pertanyaan dlam dirinya. Mengapa orang yang pernah berkuasa dan sakti itu akhirnya meninggal dunia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul dalam benaknya saat berada di tempat tersebut.

Dalam kurun tiga tahun akhirnya pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya, setalah melalui perjalanan panjang olah spriritual dan bertanya kepada ulama dan orang-orang yang mempunyai kewaskitaan. Di dukung lagi usianya yang semakin dewasa dan matang dalam membaca tanda-tanda zaman.

Jawaban pertanyaan seperti itu adalah gunung diciptakan Allah untuk umat manusiasebagai sumber air bersih, penahan banjir, angin puting beliung, tempat tinggal berbagai macam binatang dan sebagainya. Tapi jika di rusak, maka sudah barang tentu akan membawa malapetaka bagi manusia itu sendiri. Seperti meninggal akibat tertimbun longsoran gunung dan banjir banding. Karena manusia telah melakukan perusakan terhadap gunung yang penuh dengan pepohonannya.

Kemudian R. sumito menjawab, bahwa keberadaan masjid demak merupakan simbol dari berdirinya pusat penyebaran islam di masa lalu. Masjid tersebut merupakan pusat dakwah dari para wali penyebar agama islam di tanah jawa. Bahkan merupakan masjid terbesar dan termegah pada waktu itu.

Sementara makam-makam para raja dan keluarganya itu diartikan, bahwa selama hidup didunia ini tidak boleh sombong takabur. Juga bila berkuasa tidaklah boleh bertindak dzalim dan semena-mena terhadap rakyatnya. Karena tidak akan selamanya manusia itu akan berkuasa. Suatu saat akan turun dari jabatannya, baik diturunkan oleh musuhnya maupun disebabkan meninggal dunia.

Hamparan makam-makam itulah yang memberikan pelajaran penting bagi R. sumito untuk hidup lebih baik. Mumpung masih muda dan belum meninggal dunia waktunnya dipergunakan untuk mencari ilmu dan berbuat baik kepada sesama manusia serta berkarya bagi dirinya sendiri maupun untuk bangsa Indonesia.

Aktivitasnya yang cukup padat, baik disekolah maupun di luar sekolah menjadikan R. sumito tidak sempat pacaran sebagimana anak-anak muda waktu itu. Ia masih suka memikirkan kehidupan alam dan masa depan yang harus diraih. Baginya pacaran itu tidak penting. Karena di larang agama dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat jawa yang selalu menjaga norma-norma.

Idealisme yang tinggi ketika duduk di bangku SMA membuat R. sumito tenggelam dalam kegiatan spiritual yang tinggi. Ia tinggal di gunung selama seminggu. Kalau sudah di masjid tidak ingin cepat-cepat pulang. Sebab menikmati iktikaf di dalam masjid, baik pada saat siang hari maupun tengah malam. Sedangkan jika berada di makam-makam para raja selalu melakukan semedi. Dalam dirinya selalu terbayang keinginannya untuk mengembalikan kejayaan kesultanan demak bintoro yang pernah jaya di masa lalu.

Bahkan dirinya membayangkan jika nantinya telah dewasa ingin sekali melestariakan budaya yang ditinggalkan oleh kesultann demak. Karena dirinya memiliki trah atau keturunan raja-raja melalui Pangeran wijil dari demak yang makamnya ada di laweyan kasunanan surokarto hadiningrat solo. Baginya hal itu bukanlah mustahil. Insya allah keinginannya akan terkabulkan.

MASA MUDA
Begitu lulus dari SMA demak, R. sumito melakukan perjalanan spiritual ke berbagai daerah di jateng. Ia tidak meneruskan kuliah ke perguruan tinggi di semarang. Waktu itu memang banyak remaja yang tidak melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Kebanyakan setalah lulus SMA bekerja dan menikah.

Perjalanan spiritual R . sumito pada awal dewasa ini sebagai pendalaman ilmunya yang selama ini di milikinya. Ia mengibaratkan perjalanan spiritual ini sebagai suatu kuliah tidak formal. Berbagai kesulitan selama perjalanan tersebut dilalui dengan tabah. Hal ini menjadikan kekuatan batinnya semakin kuat dalam menghadapi persoalan hidup.

Dalam perjalanan spiritual inilah, R. sumito tumbuh menjadi seorang pemuda yang matang dan dewasa lahir batin. Ilmu yang dimilikinya diamalkan kepada anak-anak muda. Khususnya ilmu pencak silat tenaga dalam dan budaya. Cukup banyak anak-anak muda yang belajar kepadanya tanpa harus membayar.

Pelajaran silat yang diberikan itu mampu melahirkan pendekar-pendekar yang handal. Tapi tidak sombong dan pamer kekuatan. Apalagi dipergunakan untuk tindak kejahatan. Ilmu silat yang di ajarkan itu hanya untuk membela diri dari serangan manusia-manusia jahat dan kesehatan badan. Sekali-kali ia memberikan pelajaran tari kepada anak-anak muda, kemudian ditampilkan dalam sebuah pagelaran diatas panggung terbuka. Banyak masyarakat yang mengagumi hasil karya seni tarinya. Karena dinilai memiliki keindahan yang bernilai seni tinggi.

Selain itu menggelar kegiatan seminar dan dialog tentang dimana letaknya kesultanan demak bintoro. Dengan menghadirkan pakar-pakar sejarah dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang jawa tebgah. Cukup banyak sekali tokoh masyarakat dan cendikiawan yang menghadiri acara yang di adakan tersebut. Karena dianggap misteri dan perlu di ungkap. Kepeduliannya terhadap keberadaan keraton demak bintoro ini membawa R. sumito peduli terhadap masalah-masalah kelestarian peninggalan-peninggalan Kesultanan Demak Bintoro. Diantaranya adalah makam-makam bangsawan yang selama ini terbengkalai dan tidak medapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Seperti makam Astana Gedhong Kenep mangunjiwan.

Perhatiannya terhadap makam Astana Gedhong Kenep ini karena R. sumito melihat kondisinya sangat parah. Sebagian besar telah dijadikan persawahan. Sehingga bekas-bekas makamnya sudah tidak nampak sekali. Hanya sebagian yang masih nampak dan utuh yang bisa di pelihara. Karena sebagai salah satu bukti sejarah adanya Kesultanan Demak Bintoro.

Ia ingin penghilangan makam-makam keluarga raja Demak Bintoro ini berlangsung terus, baik dilakukan oleh manusia maupun alam. Juga jangan sampai Masjid Demak yang semakin tahun jumlahnya tinggal sedikit akibat penghilangan secara paksa oleh pengurus Masjid Demak. Diantara makam yang telah di hilangkan adalah makam yang berada di depan Raden Patah.

MENDIRIKAN YAYASAN
Latar belakang inilah yang menjadikan R. sumito kemudian pada tahun 1999 mendirikan Yayasan Keraton Glagahwangi Dhimak dengan tujuan untuk melestarikan Makam Astana Gedhong Kenep Mangunjiwan Demak agar keberadaannya semakin baik dan ada yang mengurus. Adapun kegiatan yayasan tersebut mulai melakukan penataan terhadap makam itu dimulai sejak tahun 1992. satu persatu makam ditata dengan baik dan rumput-rumput yang menutupi makam di hilangkan. Makam para pangeran diberi cungkup agar tidak kehujanan. Hingga akhirnya makam itu tertata dengan baik sekali. Tetapi sayangnya upaya melestarikan makam itu tersebut mandapat tantangan dari sejumlah masyarakat yang memang tidak suka akibat kurang mengerti niat baiknya. Kemudian muncul isu bahwa akan menyaingi makam kadilangu demak, padahal sebenarnya tidak demikian.

Isu inilah yang membawa dampak kurang baik bagi Makam Astana Gedhong Kenep. Tepatnya tahun 1999 puluhan anggota ormas pemuda GP anshor Demak melskukan penyerbuan ke lokasi Makam Astana Gedhong Kenep dengan melakukan pembakaran. Kemudian makam-makam yang ada dirusak. Sehingga banyak bentuk makam yang terbuat dari batu putih mangalami kerusakan yang cukup parah. Padahal makam itu tidak bersalah. Melihat aksi pembakaran dan perusakan makam-makam pangeran dan keluarga sultan membuat R. sumito hanya terdiam. Ia tidak melakukan perlawanan. Dalam batinnya mengatakan kalau orang-orang yang melakukan pembakaran dan perusakan makam itu belum tahu maksud dan tujuannya. Karena kalau dilawan nantinya akan berakibat fatal. Ia hanya mendoakan semoga Allah memberikan hidayah yang suatu saat akan sadar kalau Makam Astana Gedhong Kenep itu perlu dilestarikan dan dijaga. Bukannya dibakar fasilitasnya dan dirusak makamnya. Kemampuan menahan diri untuk tidak melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang melakukan pembakaran terhadap fasilitas makam itu merupakan pencapaian tingkat tinggi spiritualitas R. sumito. Hal ini sebagai bukti bahwa dirinya telah memilki ketinggian kesabaran menahan amarah.

Sejak itu R. sumito tidak lagi mengurusi Makam Astana Gedhong Kenep. Makm itu dibiarkan apa adanya terlantar. Karena percuma diurus kalau saja ada orang yang tidak menyukai dan berani bertindak anarkis. Baginya melestarikan makam bukanlah ada niatan bisnis, melainkan menguri-uri peninggalan kesultanan masa lampau. Setelah tiga tahun terjadi pembakaran dan perusakan Makam Astana Gedhong Kenep , R. sumito mendapat penghargaan dari AIMSH (America Institut Manajemen Studi Hawai ) dengan gelar Doktor Honoris Causa dan mendapa uang sebanyak 20 juta. Penghargaan ini sebagai penghargaan atas kepeduliannya terhadap pelestarian situs benda-benda pusaka kerajaan Demak Bintoro, khususnya terhadap Makam Astana Gedhong Kenep.

Baginya penghargaam yang diberikan orang-orang luar negeri itu dapat menyejukkan hati. Juga dapat meningkatkan semangat untuk ikut serta melestarikan benda-benda cagar budaya bangsa Indonesia yang berserakan di Kab demak agar tidak hilang. Perjalanan waktu terus berlangsung antara tahun 1999 sampai 2004. kondisi makam semakin tidak terusus. Rumput-rumput makin meninggi. Tidak ada orang maupun pejabat peduli terhadap makam tersebut. Kemudian menginjak tahun 2005 dan situasi negara stabil, ia bersama teman-temannya mulai memperhatikan Makam Astana Gedhong Kenep dan melakukan pemeliharaan. Upaya pemeliharaan di kompleks makam astana gedhong kenep itu mendapat sambutan yang cukup besar dan orang-orang yang telah melakukan pembakaran dan perusakan mulai sadar. Mereka tidak akan melakukan gangguan terhadap R. sumito yang betul-betul berniat baik ingin melestarikan makam itu.

Selain itu, masyarakat demak telah mengerti akn pentingnya keberadaan makam-makam keluarga para bangsawan demak dan cucu raden patah di makam astana gedhong kenep yang telah ada beberapa abad yang lalu. Mengingat ketika masih hidup keluarga sultan itu memiliki jasa yang cukup besar terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia ini, khususnya Kesutanan Demak Bintoro.

Juga kondisi situasi dan kondisi politik yang sempat memanas setelah lengsernya presiden soeharto dari jabatannya kembali menjadi kondusif. Sehingga nuansa panas yang membuat masyarakat mudah tersulut dan terprofokasi sudah tidak ada lagi. Masyarakat memilih hidup tenang dan tenteram. Tidak ingin lagi terbawa dalam situasi untuk bertindak anarkis di lingkungan sekitarnya sendiri. Yaitu merusak makam bersejarah. Sedangkan orang-orang yang pernah melakukan pembakaran terhadap fasilitas di dalam makam dan perusakan pada makam-makam yang ada telah menyatakan diri telah sadar. Bahwa apa yang pernah dilakukan itu telah melanggar Undang-Undang Cagar Budaya di Indonesia. Di antaranya adalah mantan ketua GP Ansor Ashadi. Ia menyatakan diri secara sukarela tanpa adanya peksaan telah bersalah. Tidak akan mengulangi lagi. Karena memang sangat merugikan bagi diri sendiri maupun masyarakat. Bahkan siap untuk membantu menjaga makam yang dad di lokasi Komplek Makam Astana Gedhong Kenep yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Demak.

Dalam pengakuannya waktu itu sedang khilaf dan terprofokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga melakukan upaya perusakan dan pembakaran pada makam Kompleks Astana Gedhong Kenep yang telah ditata R. sumito joyokusumo.

SURAT PERMOHONAN MAAF

Assalamu;alaikum Wr.Wb
Bersama ini saya Ashadi mantan ketua GP ANSOR Kabupaten Demak, beralamat di JL Kauman Utara RT 08 RW 01 Bintoro Demak bertindak selaku pribadi maupun selaku mantan ketua GP ANSOR Kabupaten Demak tahun 1999.

Pertama-pertama saya sampaikan seperti tersebut di bawah ini :

1. bahwa benar adanya pada waktu itu sekitar pukul 11.00 WIB tanggal 31 Agustus 1999 di lingkungan Komplek Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo atau dikenal Pangeran Dhimak Kenep Mangunjiwan Kab demak telah terjadi pembakaran dan penjarahan pada Komplek Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo yang dikelola oleh Yayasan Karaton Glagahwangi Dhimak

2. bahwa benar pelaku pembakaran dan penjarahan Kompleks Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo tersebut dilakukan oleh massa dan Banser GP ANSOR Kabupaten Demak

3. bahwa atas kejadian pembakaran itu dan penjarahan di Kompleks Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo tersebut telah merugikan pengelola komplek makam, Yayasan Keraton Glagahwangi Dhimak

4. Bahwa setelah kejadian pembakaran dan penyerangan terhadap Komplek Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo tersebut telah menyadarkan kami atas kekhilafan langkah institusi kami GP ANSOR Kabupaten Demak terhadap Yayasan karaton Glagahwangi selaku pengelola

Oleh karenanya atas kerendahan hati yang tulus serta jiwa besar kami, dengan ini : “ kami menyatakan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada keluarga besar Yayasan Karaton Glagahwangi Dhimak atas terjadinya pembakaran dan penjarahan Komplek Makam Ki Agung Cokro Joyokusumo. “ 

Demikian pernyataan permohonan maaf kami, yang telah kami buat ats kesadaran dan kekhilafan institusi kami, tanpa paksaan dari pihat manapun.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Demak.26-10-2001
Yang menyatakan

Ashadi

DIKUKUHKAN MENJADI SULTAN DEMAK
Kondisi dan situasi inilah yang menjdikan ia semakin bersemangat tinggi untuk kembali menjaga dan memugar makam yang ada. Satu persatu makam diperbaiki dan dibetulkan keberadaanya. Hingga akhirnya makam benar-benar seperti aslinya. Ada rasa kebanggaan pada dirinya, karena dapat melihat makam sudah kembali tertata rapid an dapat di ziarahi oleh orang-orang dari berbagai daerah dan masyarakat sekitar.

Setelah sekian tahun lamanya R. sumito menata dan melestariakan Makam Astana Gedhong Kenep, beliau mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat dan pemerintah. Karena telah menunjukan niatannya murni untuk pelestarian budaya bangsa. Upayanya ini kemudian mendapat bantuan moril dan spiritual.

Kemudian untuk kegiatan melestarikan Budaya Bangsa Indonesia dan menguri-uri Makam Astana Gedhong Kenep Mangunjiwan Kab demak itu, maka pada 22 maret 2007 ia mendirikan Paguyuban Ahli Waris Sinuhun Agung Cokro Joyokusumo alias Pangeran Dhimak. Tujuannya untuk mengangkat kemasyuran leluhur guna mencapai kemakmuran bagi rakyat.

Seiring dengan berkembangnya Paguyuban Ahli Waris Sinuhun Cokro Joyokusumo atau Pangeran Dhimak, maka beliau bersama keluarga pindah rumah di dekat areal Makam Astana Gedhong Kenep dengan tujuan akan dapat mengelola paguyuban tersebut dengan maksimal dan sekaligus sebagai tempat secretariat. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, maka paguyuban tersebut berkembang dengan pesat. Kegiatan-kegiatan yang bersifat budaya berjalan lancer dan mampu memberikan pengertian tentang pentingnya pelestarian budaya yang ada. Khususnya peninggalan Kesultanan Demak Bintoro ini. Sehingga masyarakat memiliki kepedulian terhadap situs-situs sejarah masa lalu.

Kepedulian itu telah terwujud dalam pemikiran masyarakat Demak untuk mengetahui di manakah letak Keraton Demak Bintoro dan tidak lagi mau merusak makam-makam tua yang ada di sekitarnya. Kecuali pengurus Masjid Demak yang masih terus menghilangkan makam-makam pangeran di sekitar Masjid Demak. Mungkin belum mengerti apa arti pentingnya keberadaan makam para kaum bangsawan dan ulama-ulama masa lalu yang berjasa terhadap kerajaan di sekitar masjid. Sepak terjangnya dalam melestarikan budaya, R. Sumito Joyokusumo bersama Paguyuban Ahli Waris Sinuhun Cokro Joyokusumo atau Pangeran Dhimak dalam upaya melestarikam pusaka dan budaya Kesultanan Demak Bintoro di dengar oleh orang-orang luar negeri. Dari sinilah ia mendapatkan berbagai penghargaan.

Salah satu penghargaan yang cukup spektakuler adalah penobatannya beliau sebagai Sultan Keraton Glagahwangi Dhimak pada 7 oktober 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia oleh DYMM SRI SULTAN NOTOBROTO KERATON NUSANTARA di Malaysia dengan gelar DULI YANG MAHA MULIA SRI SULTAN SURYA ALAM JOYOKUSUMO. Argumentasi inilah yang mendasari R. sumito menjadi seorang sultan berdasrkan perhitungan falaq dan akan melestarikan budaya bangsa. Oleh karena itu dirinya di kukuhkan dan berhak menyandang gelar Sultan Demak di abad modern dengan gelar Duli Yang Maha Mulia Kanjeng Sri Suryo Alam. Pemberi penghargaan itu sebagai hal Kebangkitan Kesultanan Demak II di tanah jawa.

R. sumito sendiri bersedia menerima penghargaan dan penobatan tersebut sebagai Sultan Demak. Namun demikian, bukan berarti akn memisahkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ). Tapi tetap dalam Negara Indonesia seperti Kerajaan di Solo, Surakarta Hadiningrat, dan Jogyakarta, Ngayogyakarta hadiningrat. Dimana Kesultanan Demak bergerak dalm bidang pelestarian budaya-budaya bangsa. Karena pelestarian budaya bangsa ini memang sangat diperlukan. Mengingat sudah banyak budaya dan pusaka-pusaka Kesultanan Demak yang hilang akibat alam maupun perusakan oleh masyarakat itu sendiri. Di sinilah R. sumito ingin menyelamatkan budaya leluhur yang masih ada.

Bahkan ingin sekali menggali peninggalan yang terkubeur dan hilang untuk dimunculkan kembali. Beliau sendiri secara pribadi siap untuk menjalankan amanah untuk melestarikan budaya Kesultanan Demak. Juga untuk menjaga kedamaian berdasarkan Undang-Undang 1945 dan Pancasila. Karena hidup di dunia ini suatu saat akan meninggal. Oleh sebab itu, mumpung masih hidup berbuat kebaikan bagi bangsa Indonesia dan Kasultanan biar nantinya dapat di kenang dengan baik.

Kemudian sebagai wujud dari adanya Kesultanan Demak dan dirinya sebagai sultannya, maka tiap tahun mengadakan pemberian penghargaan atau jumenengan kepada masyarakat yang telah berhasil melestarikan budaya bangsa seprti yang dilakukan oleh Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat jogjakarta dan Susuhuna Surakarta Hadiningrat di Solo Jawa Tengah. Untuk tahun ini telah diadakan tanggal 18-19 Maret 2010. selain itu, pada bulan November 2010 menggelar pertemuan raja-raja se-Nusantara dan juga nantinya akan dihadiri Sultan dari Brunei Darussalam dan Malaysia. Hal ini sebagai wujud dari eksistensi R. sumito sebagai Sultan Demak di zaman sekarang ini. pertemuan raja-raja dan sultan ini di harapkan akan menjadikan ajang silahturahmi. Kemudian membahas berbagai macam persoalan mesyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat dalam bidang ekonomi. Sehingga akan terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat secara menyeluruh sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang dirumuskan pendiri bangsa.

Keberadaan kesultanan keraton glagahwangi dhimak saat ini memang belum ada istananya yang besar. Namun telah di rancang dalam bentuk maket gambar gedung Keraton Glagahwangi dhimak. Bangunannya nanti tidak jauh dari Makam Astana Gedhong Kenep. Tapi tidak akan menghilangkan makam yang ada.

Keratin Kesultanan Dhimak ini nantinya akan menjadi pusat kebudayaan kesultanan. Semua masyarakat dapat berkunjung sebagaimana keika berkunjung di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadingrat (DIY) dan Keraton Surakarta Hadiningrat Sola Jawa Tengah. Nantinya juga sebagai tempat pertemuan para raja seluruh Nusantara.

Juga di gunakan sebagai tempat seminar dan diskusi oleh kalangan pelajar maupun masyarakat luas tentang kebudayaan masa lalu yang pernah ada dan dihasilkan Kesultanan Demak di masa lampau. Sehinggga diharapkan akan menumbuhkan cinta akan kebudayaan Demak yang telah lama hilang sebagai akibat perpecahan di antara keluarga Kesultanan Demak Bintoro di masa lalu. Munculnya Kesultanan Demak yang baru akan membawa masa depan yang lebih baik dan akan terlestarikannya budaya Kesultanan Demak. Sehingga akan muncul kembali kebesaran dan kejayaan Kesultanan Demak Bintoro.

Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah ( 1818 - 1832 )

Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah ( 1818 - 1832 )

Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud Riayat Syah dilahirkan sebagai Tengku Juma’at pada 1755

Sultan Johor

Sultan Johor-Riau, Sultan Mahmud Shah III mangkat pada 1812 setelah memerintah selama lebih 50 tahun, tanpa melantik pewaris takhta. Baginda meninggalkan dua orang putera berlainan bonda, kedua-duanya berketurunan Bugis. Sebagai putera yang sulong, Tengku Hussain, pada kebiasannya akan menggantikan Sultan Mahmud berbanding adinda tirinya, Tengku Abdul Rahman yang lebih muda[4] Walaubagaimanapun, Tengku Hussain, sedang berada di Pahang semasa ayahndanya mangkat. Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah memegang tampok Kesultanan Johor-Lingga-Pahang pada usia ke 57. Perebutan kuasa oleh Tengku Abdul Rahman telah berlaku yang mana sepatutnya Tengku Hussain (Tengku Long) anak sulung Sultan Mahmud Shah III dilantik sebagai sultan.

Perlantikan Tengku Abdul Rahman disokong kuat oleh Belanda kerana akan mendapat kuasa mentadbir pelabuhan seluruh negeri Johor kecuali Riau dan Lingga.

Beliau dengan itu dilantik Sultan Johor ke-17 dengan gelaran Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah pad 1812-1819 dimana adalah Sultan terakhir Kesultanan Johor-Lingga-Pahang.

British mula hendak campurtangan atas kepentingan Singapura dan cuba mempengaruhi Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah melantik Tengku Husin sebagai sultan.

Sultan Lingga

Dalam tahun 1818, dengan sokongan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jaafar, baginda telah ditabalkan sebagai Sultan dan Yang di Pertuan Besar Lingga bergelar Sultan Abdul Rahman I Muazzam Shah ibni al-marhum Sultan Mahmud III Alam Shah dan diperakui oleh pihak Belanda (NEI)dan bermulanya Kesultanan Riau-Lingga.


Bendera Kesultanan Riau-Lingga

Semasa pemerintahan baginda Riau telah menjadi pusat perkembangan dan penyiaran agama Islam.

Pada 1 Syawal 1249H (1823) baginda telah mendirikan Majid Raya di Pulau Penyengat di Riau yang masih ada sehingga hari ini.

Tengku Husin pula telah dilantik sebagai Sultan Johor ke 18 dengan Gelaran Sultan Husin Muazzam Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud Syah

Mangkat

Baginda mangkat di Lingga dan dimakamkan di Bukit Chengah (Chengkeh) di Daik, Kepulauan Lingga pada 9 Ogos 1832.

Pengganti Sultan Lingga-Riau setelah kemangkatan Paduka Sri Sultan Abdul Rahman Muazzam Shah, adalah anakanda baginda iaitu Paduka Sri Sultan Muhammad II Muazzam Shah ibni Almarhum Sultan Abdul Rahman I Muazzam Shah (lahir 1803) ditabalkan sebagai Sultan Lingga